Monday, March 25, 2024

Selamat Jalan Mungil ... Aulia Zahra Putriku

Kehamilan ini merupakan kehamilan istriku yang istimewa. Kami berusaha semaksimal mungkin menjaganya. Apalagi aku bekerja jauh di Jambi, hanya satu setengah bulan sekali pulangnya.

Bulan-bulan awal tidak ada masalah dengan kandungan dan bayinya. Hasil USG menunjukkan bayi tersebut normal. Tetapi menjelang 6 bulan, istriku sering mengeluh sakit kepala dan kaki bengkak. Bahkan sempat terdeteksi tidak ada gerakan pada janin. Kami memeriksakan ke dokter spesialis dengan USG yang lebih baik. 

Kami terkejut waktu dikatakan cairan di otaknya sedikit berlebih. Jika cairan otaknya terus bertambah, maka kemungkinan bayi tersebut menderita hydrocephalus. Kami diberi obat-obatan yang harus dikosumsi dan jadwal pertemuan berikutnya.

Kondisi kehamilan itu membuatku berpikir ulang untuk melanjutkan kontrak di perusahaan. Maka menjelang kontrak habis, aku memantapkan diri untuk mengatakan bahwa aku tidak berniat melanjutkan kontrak. Perusahaanku adalah perusahaan China yang beroperasi di indonesia. Atasanku satu persatu menanyakan alasannya. Aku mengatakan bahwa aku ingin fokus dengan masalah keluargaku. Setelah hand over penuh pada wakilku, aku kembali ke Bekasi.

Pemeriksaan berikutnya memberi kabar buruk, cairan pada otak bayi bertambah. Dr Devi meminta kami berkonsul ke dokter kandungan dengan alat lebih bagus, USG 4 dimensi, untuk memastikannya.

Hasil USG hanya dijelaskan singkat, kami diminta kembali ke dokter yang merujuk untuk detailnya. Ketika kami kontrol ke dr. Devi, ia terkejut, lalu segera berkonsul dengan beberapa dokter yang ada. Kesimpulannya mengejutkan, bayi ini harus segera dilahirkan jika tidak kondisinya akan lebih buruk. Kami kalang kabut karena tidak ada persiapan sama sekali. Beruntung Layanan BPJS RS Selasih membantu kami. Menjelaskan detail prosedurnya.

Pasca caesar, dokter memberi kabar memilukan, bayi terlahir tidak sempurna. Daun telinga cuma satu, bibir sumbing dan dua skin tag di dekat bibir dan telinga. Yang lebih mengkhawatirkan adalah kemungkinan masalah lain di organnya, yang harus mendapat pengecekan lebih lanjut. 

Ketika istriku tahu dia menatapku dengan perasaan tidak menentu. Aku memeluknya dan berkata, itu putri kita, akan kita rawat dengan kasih sayang apapun kondisinya. Dia memelukku sambil menangis.

Karena harus mengurus bpjs, nama kami siapkan seadanya, Aulia Zahra, bunga para waliyullah. Harapan besar kami supaya ia menjadi hamba yang dekat dengan TuhanNya.

Sepulangnya di rumah, kondisi bibirnya menyebabkan ia tidak bisa menghisap asi dengan sempurna. Hanya bisa menghisap sedikit dan keluar lagi sebagian melalui bibirnya yang sumbing. Pada saat kontrol, dokter terkejut dan memerintahkan perawat segera membawa ke NICU. Kami kaget, dan tanya ke dokter, tidak bisa dirawat jalan dok ?

Dr Thomas marah lalu berkata, kalo bapak ibu pengin bayi ini hidup, dia harus masuk NICU ! Dia mengalami dehidrasi hebat. Kondisinya kritis.

Kami tersadar betapa seriusnya kondisi saat itu, kami pasrah. Di rawat beberapa hari, kami mendapat berita bahwa bayi ini harus diobservasi lebih lanjut di fasilitas yang lebih baik. Aulia dirujuk ke NICU RSUD Bekasi dengan bantuan dr.Thomas. Seorang dokter senior yang berdedikasi tinggi. Orang Timur yang terkesan slengean, tapi penuh perhatian.

Dirawat beberapa hari, susu dimasukkan melalui selang OTG, melalui mulut. Kami diajarkan cara memberi susu dan takarannya. Untuk ganti selang, bisa dengan membawa bayi ke NICU RSUD Bekasi. Lalu bayi diijinkan pulang.

Kakak-kakaknya menyambutnya penuh gembira, mereka senang memiliki adik baru. Awalnya sedih dengan kekuranganya, lalu menjadi simpati, kasihan dan sayang menjadi satu. Rasa sayang mereka ditunjukkan dengan rela menunggu adiknya saat kami melakukan kegiatan lain. Aulia bayi yang tidak rewel, jika dia sampai menangis berarti memang ada sesuatu yang sakit atau tidak nyaman. Bahkan saat pemasangan sonde (selang OTG) sering tidak menangis, hanya air mata yang keluar menunjukkan rasa sakitnya.

Aulia hanya kontrol sekali ke dokter Thomas, kemudian beliau merujuk ke dr. Dina, karena mencurigai ada masalah lain pada dedeknya. Dr. Dina spesialis neurologi untuk bayi di RSUD.

Di dr. Dina, beliau menjelaskan hal yang mengejutkan. Sambil menunjukkan hasil CT scan, dia berkata ; saya jelas kan pelan-pelan pak. Otak normal itu penuh. Otak bayi ini banyak yang bolong. Bagian yang bolong itu, menyebabkan koordinasi organ yang diaturnya terganggu. Singkatnya kita harus periksa menyeluruh. Saya buatkan urutan dan jadwalnya.

Lalu beliau menuliskan harus dikonsulkan ke dokter spesialis :

- Jantung - THT - Mata - Lab - Tumbuh  Kembang

Ternyata yang diprediksi dokter Dina benar, Aulia jantungnya bocor di 2 tempat 2,5 mm, Matanya kemungkinan besar tidak berfungsi, telinga tidak bisa mendengar.

Dr Dina lalu mencoret Lab, kelihatannya beliau sudah mengambil kesimpulan terkait sucpect awal penyebab kelainan : virus atau kelainan genetik.

Dr Dina terkejut pada kontrol-kontrol berikutnya, waktu kami bilang bayinya sering muntah dan berat badan tidak naik-naik. Lalu dia mengirim bayi kami ke Dr.Ali, ahli nutrisi dan metabolik anak.

Alhasil kami harus membeli feeding buret untuk memasukkan susu, dengan kecepatan 60 cc perjam.

Melihat harga feeding buret yang cukup tinggi, keuangan yang terbatas dan diganti seminggu sekali, saya berpikir keras mengakalinya. Akhirnya menemukan cara, yaitu memakai selang infus dewasa digabung dengan syringe 100 cc. Lumayan hanya memakan biaya sekitar 25 ribu. Ketika diganti pun, cukup selang infusnya saja, 3500 rupiah.

Boleh dibilang Aulia Zahra memiliki peruntungannya sendiri. Dalam kondisi keuangan kami yang mepet, selalu saja ada jalan yang memudahkan disaat-saat terakhir. Selalu ada dana pada saat dibutuhkan. Entah itu dari tabungan, donasi saudara atau teman (tanpa kami minta) atau dari sambilan saya berjualan maket stik es krim secara online. Kami bersyukur pada Allah atas kemudahan ini.

Dedek harus di jaga 24 jam tanpa henti, selain karena harus memberi susu setiap 3 jam sekali, Aulia rawan muntah dan berhenti nafas. Setiap berhenti nafas, harus segera diberi oksigen dan disadarkan. Aku dan Istriku bergantian "dinas" jaga Aulia. Aku siang, Dewi malam, begitu juga sebaliknya. Kondisi bertambah rumit ketika mulai timbul kejangnya sesuai prediksi dokter. Sewaktu-waktu, tidak terduga dan tanpa sebab yang jelas. Oksigen dan orang tuanya harus siap setiap saat untuk memompa oksigen dan menyadarkan dedek bayi.

Ini menyebabkan kami tidak bisa bepergian terlalu lama dalam jarak jauh. Hampir sepanjang tahun 2023 dan awal 2024, pergi saya terjauh 20 km dari posisi Aulia. Itupun karena keperluan mendesak.

Tawaran demi tawaran kerja aku tolak halus, celah Timor, Middle East, China, Indonesia, bahkan kontrak-kontrak pendek di migas dan panas bumi terpaksa aku tolak.

Kami bertekad merawat aulia apapun yang terjadi. Bagi kami, dia bayi tercantik yang kami miliki. Saat stabil dia anak ceria, membuat kami tertawa dengan gerakan-gerakan lucunya. Walaupun hanya pantat dan badannya yang bisa dia diangkat. Dia mudah dibikin tertawa dengan menggelitiki atau mengusap-usap perutnya. Kami dan kakak-kakaknya sayang padanya.

Rujukan demi rujukan kami ikuti, RSUD, Hermina hingga RSCM. Proses antrian yang panjang sudah menjadi sarapan bagi kami, bangun pagi pulang sore hari. Ketika di rujuk ke RSCM, bagian THT memastikan telinga  kanan tidak terbentuk, telinga kiri hanya bisa mendengar beberapa frekuensi. Tetapi bukan itu yang mengagetkan kami, sang profesor mengatakan kemungkinan dedeknya kena goldenhar syndrome. Dari sekian banyak yang dirawat hanya tinggal 2 pasien yang masih hidup. Kami lemas mendengarnya, memandang Aulia dengan trenyuh. Ya Allah dek, badan sekecil ini harus menanggung derita sedemikian besarnya. Pihak RSCM memberi rujukan ke poli nutrisi metabolik, untuk memastikan syndrome tersebut dan konsultasi terkait kesulitan menelan dan asupan nutrisinya.

Karena jadwal dokter nutrisi dan metabolik masih beberapa hari, kami pulang terlebih dahulu. Rupanya sepulang dari RS, Aulia ngedrop kondisinya. Dia mulai pilek. Sehari tak ada perbaikan, kami bawa ke klinik W. Dr Ikbar langsung menyarankan rujuk ke dokter yang menanganinya di RSUD. Kami yang kecapean karena marathon rujukan, menawar minta diresepkan obat yang aman. Dokter muda itu akhirnya membuatkan, sambil berpesan jika esok tidak ada perbaikan, balik ke klinik lagi untuk dibuatkan rujukan.

Kami mengikuti arahannya. Alhamdulillah, dedek bayi sembuh. 

Tetapi kejadian demi kejadian membuat kontrol Aulia selalu tertunda. Pileknya terulang 2 kali, lalu cacar menyerang saya dan ketiga kakaknya bergantian. Sampai kami suruh penderita isolasi diri supaya tidak menular ke adiknya. Dana benar-benar terkuras  dalam masa itu.

Malang tak dapat ditolak, sehari sebelum pemilu 2024, tanpa gejala awal apa-apa, aku terkena stroke hemoragik, pecah pembuluh darah diotak. Hampir 10 hari aku dirawat, Aulia lah penyemangatku untuk pulih, dia yang selalu ada di kepalaku. Aku keluar rumah sakit dengan berjalan tertatih-tatih, belum pulih benar.

Dalam banyak hal, aku melihat saja ketika Aulia digendong, ganti baju, membersihkan kotoran atau hal-hal yang bila kulakukan akan membahayakan dirinya. Kondisiku yang belum pulih dari stroke membuat semuanya terbatas. Tapi ini memicu semangatku untuk sembuh.

Tanggl 17 Maret 2024 adalah ulang tahunnya, kakak-kakaknya menciumnya memberi ucapan selamat. Tetapi tidak seperti biasanya, Aulia diam saja. Ternyata dari hidungnya keluar ingus.

Waduh, berbahaya ini. Aku ingat dr.Dina pernah bilang, bayi ini jangan sampai sakit.

Makin lama ingus bertambah banyak dia kesulitan bernafas dan menangis. Akhirnnya hari kedua kami bawa ke klinik W, faskes 1 BPJS. Karena kondisiku, Istri dan anak pertamaku yang bawa menggunakan motor. Dokter Ikbar yang biasa nangani dedek tidak ada, adanya dokter pengganti. Anehnya dokter ini tidak merujuk ke dokter spesialis, padahal bayi beresiko tinggi. Biasanya dokter Ikbar tidak mau ambil resiko, langsung merujuknya.

Pulanglah Aulia dengan obat bapil & demam tanpa antibiotik.

Dokter hanya mengatakan itu batuk pilek biasa, biarpun istriku sudah menjelaskan dan record medisnya ada. Kami berprasangka baik dan memakai obat yang ada.

Tidak ada perbaikan, dan panasnya makin tinggi. Hari kedua panas tidak juga turun 39,4 C dalam termometer kami. Nangis tidak berhenti-henti dan tidak bisa tidur. Ingus keluar terus menerus. Akhirnya kami kembali ke klinik W.

Dokter baru lagi ! Kali ini bahkan tidak menyentuh dedek yang lagi menangis digendong mamanya. Dia meresepkan obat demam, bapil, dan antibiotik. Tidak juga merujuk ! Malah mengatakan percuma ganti obat juga kalo badannya tidak fit. Bayinya harus fit.

Bodohnya, kami pasrah, kami coba dulu obat baru yang ada anti biotiknya. Ingusnnya memang sudah jarang keluar, tapi masih bunyi grok-grok. Dedek masih gelisah dan nangis terus. Bisa tidur hanya sebentar. Panasnya masih tinggi. Kami kombinasi obat panas setiap 4 jam, seperti saran dokter.

Untuk menenangkan dedek, diajaklah dedek muter-muter naik motor oleh mama dan putra sulung kami. Tidur di jalan. Namun saat pulang kembali nangis. Lalu dibawa pergi lagi, untuk menenangkan.

23 Maret 2024 dini hari, sepulang jalan-jalan, dedek yang tadinya anteng, nangis lagi, badannya panas padahal sudah dikasih obat. Kami semua kebingungan.

Stroke membuat aku tidak hanya secara fisik terpengaruh, ingatan dan pola pikirku pun berkurang. Mudah bingung dan pusing jika ada masalah. Biasanya kalo ada dalam kondisi seperti itu aku bisa berpikir lebih jernih untuk mencari solusi.

Setelah istri dan anakku belum berhasil menenangkan Aulia, aku akhirnya mengambil sedotan ingus bayi, kusedot kiri dan kanan, lalu kupasang selang oksigen. Ajaibnya, dedek langsung tenang, menghirup nafas teratur dan tidak berbunyi. Mata setengah tertutup (jika tidur matanya gak tertutup penuh). Kami semua mengira ia tertidur, kami perlahan-lahan menjauh. Hanya fokus pada tabung oksigen, kami kurangi perlahan dari 4 baris, 3,2, dan ke 1 baris, karena oksigen hampir abis.

Jam 6 pagi oksigen abis, selang saya cabut. Ada keluhan protes sebentar dari Aulia, tapi kemudian dia bernafas biasa dan tetap tidur. Kami tenang, mamanya pun pergi tidur, dia kecapean semalaman jaga, kakaknya kusuruh siap2 antar adiknya sambil beli oksigen. Aku menjaga Aulia, kulihat dia bernafas tenang. Aku tak berani mengganggunya takut  terbangun, sementara oksigen sedang abis.

Kakak pulang dengan tabung kosong, katanya agennya juga kehabisan, baru siang ada. Aku melihat Aulia bernafas tenang. Akhirnya Kakak kusuruh tidur, siang baru beli. Aku sendiri pergi kekamar lain untuk bikin maket karena ada permintaan.

Sekitar jam 12 aku kembali, aku lihat dedek masih tidur, nafas teratur. Aku lalu membuat susu 40cc dan dimasukkan ke feeding tubenya. Seperti biasa aku amatin kecepatan dan kelancaran alirnya, tetes demi tetes. Aku lihat tidak ada reaksi dari Aulia seperti muntah, baru aku beranjak pergi.

Tiba-tiba aku benar-benar merasa cape. Aq pun duduk disamping istriku, masih sempat kulirik tetesan susu nya lancar. Dedek jg masih tertidur. Lalu aku merebahkan diri.

Merebahkan badan sambil melihat langit-langit. Entah berapa lama. Tiba-tiba kakaknya teriak ; papa dedek melotot !

Aku sontak terbangun, buru-buru ke tempat dedek. Astaga kejang. Aku mematikan selang susu dan membangunkan dedek. Tapi tidak ada reaksi. Mata melotot, tidak bernafas, detak jantung berhenti, kaki sudah dingin sampai lutut.

Aku lemas, stroke ku menghambat gerakan dan pikiranku. Aku lupa memegang sertifikat CPR intermediate level. Harusnya CPR dulu yang aku lakukan. Aku lupa golden time. Aku hanya bisa teriak-teriak parau meminta dia dibawa ke klinik, sambil melambaikan tanganku yang berasa lemas.

Terlambat. Aulia dinyatakan meninggal oleh klinik. 

Jenazah kami bawa dengan motor, dilihat orang-orang. Gocar yang kami pesan, minta dicancel dan tidak datang-datang.

Ada terbersit penyesalan dalam hatiku, tidak melihat apa yang terjadi saat kepergiannya.

Aku hanya bisa berbisik pilu ke jasad anakku di ambulance yang membawa kami ke pemakaman :

" Papa ikhlas menjagamu nak, tadi papa istirahat sebentar, maafkan papa sayang..  "

----------------------------------------------------------

Anakku .. engkau salah satu anugerah terindah dalam hidup kami

Orang boleh berkata apa tentang engkau

Bagi kami, engkaulah bidadari tercantik yang pernah kami temui

Senyum dan tawamu mencerahkan hari-hari kami

Setahun bersamamu terasa singkat

Akan tak adil  bagimu kebahagiaan kami, tetapi derita kau alami

Allah memanggilmu dalam pelukan dan asuhan bidadarimu

Mengangkat semua sakit dan deritamu

Dari kotornya dunia

Dari sakitnya badan ragamu

Dari kebodohan kami yang tidak memahami setiap erangan tangismu

Dari Ketidakmampuan kami menyamankan keadaanmu


Kehadiranmu menyatukan kami

Menambal setiap lubang dalam bilik kami

Aku, Ibu dan kakak-kakakmu mencintai dan merindukanmu

Mendambakan senyum dan tawa bahagiamu

Menangis dan tersayat pada setiap deritamu


Ya Allah ampunilah kami yang tidak mampu menjaga amanahMu

Yang tidak memahami setiap tanda-tanda dariMu

Terima kasih Kau berikan kami kepercayaan untuk merawatnya

Dengan segala keterbatasan kami

Demi Allah telah kami persiapkan kedatangan malaikat kecilmu

Kami kosongkan waktu dan hari-hari untuk bersamanya

Karena ia karunia terindah dalam hidup kami


Ya Allah, kami tahu diri kami penuh dosa

Kasihani dan ampunillah kami

Supaya kami bisa bertemu dengannya diakhiratmu

Untuk memeluk dan melepaskan kerinduan kami


Bekasi, Ramadhan 1445 H



Selamat Jalan Mungil ... Aulia Zahra Putriku Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Kabhumian

0 komentar:

Post a Comment