Sunday, February 1, 2026

Hari Jadi Kota Kebumen Sebuah Ambiguitas Sejarah

Awalnya, penetapan Hari Jadi Kabupaten Kebumen tanggal 1 Januari 1936 didasarkan pada peristiwa penggabungan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Kebumen. Penetapan penggabungan tersebut berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Lembaran Negara Hindia Belanda Tahun 1935 Nomor 629 tertanggal 31 Desember 1935. 

Penetapan hari jadi ini kemudian ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1990. Hal ini menjadi polemik dan kontroversi di masyarakat Kabupaten Kebumen, karena dianggap tidak mencerminkan semangat nasionalisme dan sarat dengan nuansa kolonialisme.

Kebumen sendiri berasal dari kata kabhumian, yang merujuk pada tempat tinggal Kyai Bumi atau Ki Bumi. Ki Bumi merupakan adik Sultan Agung bernama asli Pangeran Bumidirja. Beliau tahun 1677, melarikan diri ke barat setelah berselisih paham dengan Amangkurat 1. 

Kebumen, yang waktu itu masih bernama Panjer Roma, menjadi tempat akhir pemberhentiannya. Daerah ini dulunya menjadi basis pengikut setia Sultan Agung. Daerah yang subur yang dipimpin dengan bijak oleh keturunan Ki Bodronolo, leluhur Kolopaking. Walaupun tidak mau tunduk atau tidak takut dengan Belanda, Belanda tidak berani gegabah karena Panjer dilindungi dan setia pada Keraton, serta memiliki pasukan pendem yang militan.. 

Oleh Ki Panjer Roma II (Ki Hastosutro), Ki Bumi, keluarga dan pengikutnya dihibahkan tanah untuk tinggal. Ki Bumi beserta keluarga menetap di Panjer. Dari keturunannya muncul Arung Binang yang kemudian memerintah di Kebumen. 

Setelah pertarungan Kolopaking IV dan Arung Binang IV, yang menyebabkan gugurnya Kolopaking IV, Kadipaten Panjer kemudian dihapus oleh Belanda dan diganti dengan nama Kabupaten Kebumen (Keboemen). Nama yang merujuk pada leluhur Arung Binang. Bupati pertama yang memerintah adalah Arung Binang IV (R.M. Mangoediwirdjo, 22 Agustus 1831-30 Juni 1849).

Keturunan Kolopaking dikeluarkan dari pemerintahan Kebumen dan menjadi Bupati Karanganyar (Kartanegara) dan Bupati Banjarnegara (Jayanegara). Wilayah Karanganyar meliputi daerah sebelah barat Sungai Lukulo. Selama 2 periode Kertanegara, Karanganyar menjadi daerah yang maju dan kaya, melebihi Kabupaten Kebumen sendiri, dan dilanjutkan di era Tirto Kusumo.

Arung Binang VII dengan dukungan Belanda kembali menghapus Kabupaten Karanganyar dan mengambil wilayahnya masuk ke dalam Kabupaten Kebumen pada 1 Januari 1936, dan dijadikan hari jadi Kota Kebumen. Tampaknya Trah Arung Binang mengejar habis semua kejayaan yang dimiliki Trah Kolopaking yang notabene penolong leluhurnya di masa lampau.

Penetapan hari jadi Kebumen di tahun 1936, menyebabkan Kebumen terlihat seperti kabupaten baru yang umurnya masih muda dan baru muncul kemarin sore. Ini menimbulkan ketidakpuasan banyak pihak, karena Kebumen sudah memiliki sejarah ratusan tahun sejak Sultan Agung bahkan dari masa sebelumnya.

Setelah diskusi yang panjang, akhirnya hari jadi Kebumen dirubah, ditarik ke masa Ki Bodronolo mendapat mandat mendukung perjuangan Sultan Agung ke Batavia, 21 Agustus 1629. Ini tentunya lebih memuaskan  banyak pihak dan lebih patriotis dari pada ditarik dari masa pengambilalihan Kabupaten Karanganyar atas dukungan Belanda. Walaupun kemudian masih menyisakan ambiguitas, bahwa pada jaman Ki Bodronolo, daerah ini bernama Panjer bukan Kebumen.

Hari Jadi Kota Kebumen Sebuah Ambiguitas Sejarah Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Kabhumian

0 komentar:

Post a Comment