Tuesday, January 27, 2026

Kupu Tarung Kebumen Dalam Dua Sisi Sejarah

Bagi Masyarakat Kebumen, Kupu Tarung bukanlah tempat yang asing. Lokasi ini menjadi saksi pertarungan dua orang bangsawan dari dua Trah yang berbeda. Kolopaking IV dengan Arung Binang IV, dua tokoh yang sama-sama sakti. Kedua pendekar itu berasal dari trah yang sama-sama membentuk sejarah pemerintahan di Kabupaten Kebumen.

Kebumen pada awalnya bernama Panjer, sebuah kademangan pada masa Mataram Islam-Sultan Agung, merupakan daerah lumbung pangan yang penting bagi Mataram. Kesuburan tanah Panjer yang didukung pengairan dari sungai dan anak-anak sungai Lukulo, menjadikan Panjer sebagai penyedia suplai pangan bagi pasukan Mataram waktu menyerang batavia.

Pada awalnya Panjer dipegang oleh keturunan Ki Bodoronolo yang terdiri atas Panjer Gunung (daerah Karang Sambung) dan Panjer Roma (daerah Kebumen lembah - Kota). Tetapi kemudian diserahkan pada Ki Bumi (Pangeran Bumidirja) bergelar Ki Gedhe Panjer Roma III dan digabung menjadi satu Panjer.

Ki Bumi mendapat gelar Tumenggung Kolopaking 1, seterusnya membentuk trah Kolopaking, sampai dengan Kolopaking IV.

Sementara trah Arung Binang dimulai dari Jaka Sangkrip yang merupakan anak Pangeran Puger (Pakubuwono I) yang diasuh oleh Ki Hanggayuda. Setelah berhasil mengatasi sakitnya, pemuda Jaka Sangkrip kemudian membantu ayah angkatnya Ki Hanggayuda mengamankan Kutowinangun dan mengabdi ke Pakubuwono II mendapat Gelar Arung Binang 1.

Ki Hanggayuda inilah yang mengajak Tan Peng Nio dan  Lie Beeng Goe bergabung dengan Kolopaking II untuk membantu perjuangan Pangeran Mas Garendi (Amangkurat V) melawan Pakubuwono II dan VOC. Pada Akhirnya Tan Peng Nio diambil sebagai istri oleh Kolopaking III.

Disinilah keberpihakan itu terlihat, tetapi karena hasil pertempuran kedua kubu adalah perjanjian damai, maka keberpihakan ini tidak lagi muncul dipermukaan, apalagi secara kedaerahan, kedua trah tersebut memiliki hubungan yang relatif baik.

Permasalahan muncul setelah terjadinya perang jawa (perang diponegoro), dimana Trah Kolopaking berpihak pada Pangeran Diponegoro dan Trah Arung Binang pada Keraton dan  Belanda. Dengan berakhirnya perang Jawa, dengan kekalahan di pihak pangeran Diponegoro, Belanda berusaha mengikis habis sisa-sisa kekuatan dan pendukung yang ada. 

Arung Binang III mendapat tugas untuk melakukan pembersihan itu, tetapi kedekatan kedua trah membuat hal ini tidak efektif dan terkesan beliau mengulur-ulur waktu. Belanda yang marah mengambil tugas itu dari Arung Binang III dan menyerahkan tugas pembersihan sisa-sisa pendukung Diponegoro pada anaknya Arung Binang IV.

Dibawah tekanan Belanda dan keraton akhirnya Arung Binang IV melakukan tugas itu. Pada awalnya level laskar pengikut, pada akhirnya tak terelakkan menyentuh level di atasnya, yaitu trah Kolopaking. Inilah yang kemudian menyebabkan perselisihan keduanya sehingga terjadi pertarungan di kupu tarung.

Kolopaking IV dan Arung Binang IV sama-sama sakti dan tangguh, setelah pertarungan berjalan lama, akhirnya Arung Binang IV berhasil melukai Kolopaking IV dengan Pusaka Naracabala-nya (pusaka Jaka Sangkrip). Pertempuran masih terus berjalan, sampai akhirnya Belanda yang tidak sabar, menembak Kolopaking IV dari belakang sehingga gugur.

Kolopaking IV (Kertowongso) digantikan oleh Kolopaking IV yang baru (Endang Kertowongso) anak Tan Peng Nio. Tetapi hanya bersifat sementara, kemudian Kolopaking IV yang baru, dengan berbagai tekanan, akhirnya mundur, melepas gelar kolopaking dan menggunakan nama Tan Eng Kiat sampai akhir hidupnya.

Kematian Kolopaking IV adalah kematian yang harus terjadi, yang menyelamatkan keturunan kolopaking dan harga diri trah. Jika Kolopaking IV hanya menurut dan menyerah sejak awal, trah kolopaking akan direndahkan dan tetap musnah. Tetapi dengan perlawanan hingga akhir dan pengorbanan ini, Belanda berpikir seribu kali untuk menghabisi seluruh keturunan kolopaking & pengikutnya.

Setelah Kolopaking IV ini, Belanda dan keraton melarang penggunaan nama kolopaking, keturunannya hanya boleh memakai nama Kartanegara (Bupati Karang Anyar) dan Jayanegara (Bupati Banjar Negara).



Kupu Tarung Kebumen Dalam Dua Sisi Sejarah Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Kabhumian

0 komentar:

Post a Comment